Suatu hari saya menerima keluhan dari istri saya tentang ketidakadilan hidup. Ia berkata” Kuliah saya dulu IPKnya tinggi, saya mengerjakan soal ujian CPNS juga bisa mengapa saya tidak diterima PNS, sedangkan teman saya yang IPKnya rendah, waktu ujian CPNS juga minta jawaban dari saya, tetapi malah ia yang diterima PNS sedangkan saya tidak”. Ia mulai menyalahkan Pemerintah, panitia ujian CPNS dan mengeluh terus menerus menyesali kehidupan yang tidak adil ini. Istriku yang masih jadi guru bantu itu rupanya tidak faham bahwa hidup ini memang tidak adil. keadilan itu hanya ada di alam akhirat nanti. Hidup memang tidak adil. Hidup ini tidak menyenangkan, tetapi hidup ini nyata.
Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan adalah merasa kasihan pada diri kita sendiri, atau kasihan pada orang lain, berpikir bahwa hidup ini seharusnya adil, atau suatu hari nanti hidup ini pasti adil. Tidak benar begitu atau tidak akan begitu. Bila kita melakukan kesalahan ini, kita cenderung menghabiskan waktu kita berkubang dan atau mengeluh tentang apa saja yang salah dengan hidup ini.Kita kasihan pada orang lain, mendiskusikan ketidak adilan hidup. “ Hidup ini tidak adil,” kita mengeluh, tidak menyadari, mungkin hidup ini bakal begitu terus.
Salah satu hal yang baik adalah bila kita melepaskan pikiran bahwa hidup ini tidak adil, maka kita terhindar dari mengasihani diri kita, karena dengan demikian kita mendorong diri kita berusaha sebaik mungkin dengan apa yang kita miliki. Kita tahu bahwa bukan “ tugas hidup” untuk membuat segalanya sempurna, ini tantangan kita. Melepaskan pikiran ini juga membuat kita terhindar dari mengasihi orang lain karena kita sadar bahwa orang lain memiliki suratan tangan masing-masing, dan setiap orang memiliki kekuatan dan tantangan yang tak sama dengan orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar