Sabtu, 25 Oktober 2008

Perbesar rasa peduli Anda

Tak ada yang lebih membantu memperluas sudut pandang kita selain memperbesar rasa peduli kita kepada orang lain. Peduli berarti bersimpati pada orang lain. Dengan peduli kita berusaha menempatkan diri kita pada posisi orang lain, tidak memikirkan diri sendiri dan membayangkan bagaimana rasanya bila kita yang mengalami kesulitan yang dialami orang lain itu, dan sekaligus berbelas kasih pada orang tersebut. Harus diakui bahwa persoalan orang lain, rasa sakitnya dan frustrasinya, persis seperti yang kita rasakan- malahan kadang-kadang lebih parah. Menggakui kenyataan ini dan berusaha menawarkan bantuan, akan membuka hati kita dan memperbesar rasa syukur kita.
Rasa peduli dapat dikembangkan dengan melatih diri sendiri. Untuk melakukannya, kita membutuhkan dua hal: niat dan tindakan. Dengan berniat berarti kita ingat untuk membuka hati kita kepada orang lain, menyampaikan apa dan siapa yang jadi persoalan, dari diri kita ke diri orang lain. Dengan bertindak berarti kita” melakukan apa yang harus kita lakukan untuknya.” Anda bisa menyumbang sedikit uang, tenaga atau waktu9 atau kedua-duanya) secara berkala pada hal-hal yang menyentuh hati. Atau mungkin Anda akan tersenyum manis dan menyapa dengan tulus orang-orang yang Anda temui di kantor, sekolah atau dijalanan. Tak penting apa yang Anda perbuat, pokoknya berbuat sesuatu dengan kasih sayang. Seperti kata filosof ” Kita tidak dapat melakukan hal-hal besar di dunia ini. Kita hanya dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta kasih yang besar.”
Rasa peduli akan memperbesar rasa syukur kita dengan cara melepaskan perhatian kita dari hal-hal kecil yang biasanya kita perlakukan dengan serius. Menyisihkan waktu kita untuk memikirkan keajaiban hidup-keajaiban bahwa kita bisa membaca blog ini-anugerah tangan, penglihatan, kesehatan dan karunia lainnya, dapat membantu mengingatkan kita bahwa begitu banyak hal-hal yang kita anggap sebagai ” masalah besar” sebenarnya hanyalah ”masalah kecil” yang kita ubah sendiri menjadi masalah besar”

Berhati-hatilah pada efek bola salju Anda

Teknik yang efektif untuk menjadi lebih tenang adalah menyadari bahwa berpikir negatif dan selalu merasa tidak aman akan cepat sekali membuat kita lepas kendali. Pernahkan Anda memperhatikan bahwa betapa tegangnya bila Anda dikejar-kejar pikiran Anda? Dan yang jelas, semakin kita terserap dalam hal-hal kecil yang membuat kita marah atau kecewa, semakin tidak nyaman perasaan kita. Satu pikiran menambah berat pikiran lainnya, dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya kita akan mersa sangat tergannggu.
Sebagai contoh, Anda seorang meneger di perusahaan atau di sekolah, ketika malam hari terbangun dan teringat bahwa besok akan ada peninjauan perusahaan atau akreditasi sekolah. Anda malah memikirkan teman-teman Anda yang tidak mempersiapkan berkas-berkas untuk keperluan besok, selanjutnya Anda sibuk dengan pilihan-pilihan kata untuk memarahi teman Anda, Anda membanyangkan pembicaraan antara Anda dengan tamu kunjungan atau Asesor sekolah, sehingga membuat Anda semakin cemas, Segera Anda akan berpikir, ” Ya ampun, sibuk betul aku ini. Aku harus mengurus ini, mengerjakan itu, membereskan ini dan itu. Aku benar-benar tidak punya waktu untuk diriku sendiri!” dan begitu seterusnya sampai Anda merasa kasihan pada diri anda sendiri. Yang perlu diperhatikan bahwa Tidak mungkin kita dapat merasakan ketenangan bila kepala kita penuh dengan keprihatinan dan kejengkelan.
Contoh lain, Istriku seorang guru bantu di sekolah swasta, ketika ada berita akan ada pendaftaran CPNS baru dari jalur nan honorer, ia mulai berpikir, menggapa pemerintah tidak mengangkat guru bantu dulu, ia mulai mencaci bupati, diknas, dan presiden. Ia lemas dan tidur-tiduran seharian, bahkan pekerjaan lain yang seharusnya ia lakukan tidak dikerjakan. Ini merupakan bola salju pikiran.
Cara untuk mengatasinya adalah Anda harus segera menyadari timbulnya pikiran-pikiran seperti itu di kepala Anda sebelum pikiran-pikiran itu punya kesempatan untuk berkembang biak lebih jauh. Semakin cepat Anda mengenali tanda-tanda efek bola salju ini, semakin mudah Anda menghentikannya. Dalam contoh guru bantu di atas awal bola salju itu adalah berita akan ada pendaftaran CPNS, timbul pikiran awal kekhawatiran kalau guru bantu tidak diangkat tetapi mengangkat CPNS dari non guru bantu, pikiran kedua timbul prasangka bahwa yang membuat pendaftaran CPNS itu bupati, dan bupati itu yang harus disalahkan, begitu seterusnya. Seharusnya kita berpikir bahwa pendaftaran CPNS itu memang ada tetapi pengangkatan guru bantu juga berjalan sesuai rencana. Apabila itu yang ada pada pikiran istri saya pasti ia tidak merasa jengkel pada bupati, diknas dan yang lainnya.

Jumat, 24 Oktober 2008

Orang lemah lembut dapat meraih prestasi

Salah satu alasan utama mengapa kebanyakan dari kita selalu tergesa-gesa, cemas, dan bersikap kompetitif, serta menjalani kehidupan seolah-olah dalam keadaan darurat, karena kita takut bahwa bila kita menjadi orang yang lebih tenang dan lemah lembut, kita tidak bisa lagi mencapai sasaran kita. Kita menjadi malas dan masa bodoh.
Meraih prestasi tidak harus dengan tergesa-gesa, cemas dan bersikap kompetitif. Justru apabila kita meraih prestasi dengan bersikap kompetitif akan banyak membuang energi, menghilangkan kreatifitas kita serta menghilangkan potensi besar kita. Bila kita penuh kecemasan dan kekalutan, secara harfiah kita kehilangan potensi besar yang terpendam pada kita, belum lagi hilangnya kenikmatan hidup.
Saya beruntung punya atasan kepala sekolah SMK swasta, yang punya kepribadian tenang, lemah lembut, tidak mudah cemas dalam menghadapi masalah tetapi prestasi kerja sebagai kepala sekolah saya anggap sangat luar biasa. Sampai saat ini dia merupakan inspirator saya untuk terus bersikap lemah lembut dalam melakukan segala pekerjaan.
Bila kita memiliki apa yang kita inginkan ( ketenangan batin) , kita tidak akan terlalu diganggu oleh keinginan, kebutuhan, impian, dan masalah kita. Jadi, kita akan lebih mudah berkonsentrasi, meraih tujuan, dan memberikannya kepada orang lain.

Jangan memusingkan hal-hal kecil

Sering sekali kita merisaukan hal-hal yang setelah kita amati lebih dalam, ternyata bukanlah masalah besar. Kita terpaku pada masalah-masalah kecil dan terlalu membesar-besarkannya. Contohnya, bila ada orang yang menyalip kendaraan kita, bukannya membiarkannya dan melanjutkan urusan, kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita berhak marah. Kita menayangkan pertengkaran imajiner di kepala kita. Banyak orang malah justru menceritakan keajadian ini kepada orang lain, bukan melupakan begitu saja. Saya pernah mengalami kejadian kecil yaitu dipermalukan teman seprofesi dihadapan siswa –siswa dalam suatu ruang kelas, padahal mungkin teman saya tadi tidak sengaja, tetapi saya tanggapi dengan cara meninggalkan komunitas teman saya yang sudah baik tersebut, akibatnya menyesal karena terputusnya silaturrohmi dengan teman-teman yang lain yang kepribadiannya sangat baik. Wajar memang saat kita dihina atau dipermalukan, suasana batin kita akan terasa tegang, tidak nyaman, berusaha untuk membalas, tetapi itu berlangsung tidak lama, yang penting bagi kita adalah berusaha untuk tetap tenang, bersimpati pada orang itu, pikirkan untuk membalas perasaan tidak nyaman ( mangkel) itu dengan berbuat baik pada orang tersebut dan lingkungan kita.
Banyak “ hal-hal kecil” serupa yang terjadi setiap hari dalam hidup kita. Harus menunggu giliran, mendapat kritik yang tidak fair, pekerjaan yang banyak tetapi tidak sesuai dengan imbalan, harus memikul lpaling banyak tugas, semuanya akan sangat membebani bila kita tidak belajar untuk tidak memusingkan hal-hal kecil. Begitu banyak orang yang menghabiskan energinya untuk” memusingkan hal-hal kecil” sehingga mereka samasekali kehilangan sentuhan akan keajaiban dan keindahan hidup ini. Bila kita berniat untuk berusaha mencapai tujuan ini, kita akan menemukan bahwa energi kita akan jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk menjadi orang yang lebih baik hati dan lebih lemah lembut.

Berdamailah dengan ketidak sempurnaan

Kita belum pernah menjumpai seseorang perfeksionis yang hidupnya tenteram. Kebutuhan untuk menjadi sempurna dan keinginan untuk mendapatkan ketenangan batin merupakan dua hal yang saling bertentangan. Bila kita terikat untuk mendapatkan sesuatu dengan cara tertentu, atau memaksakan diri untuk mendapatkan sesuatu, bukannya menerima apa yang sudah ada, artinya kita sudah kalah dalam pertempuran. Bukannya merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, kita malah terpaku pada apa yang masih kurang dan dorongan untuk memperolehnya. Bila kita berpikir ada yang kurang, berarti kita selalu kecewa dan tidak puas.
Banyak hal ketidaksempurnaan yang ada pada diri kita sendiri, misalnya, rumah kita yang belum selesai, anak-anak kita yang nakal, siswa-siswa kita yang bandel dan malas belajar, belum turunnya tunjangan professional kita, prestasi yang tidak sempurna, kelebihan berat badan, atau “ ketidaksempurnaan “ orang lain, missal, cerewetnya atasan, meditnya(kikir) atasan, penampilan fisik teman yang jelek, tingkah laku teman yang menjengkelkan, atau gaya hidup yang tidak teratur pada orang lain.
Sikap selalu meributkan ketidaksempurnaan akan menjauhkan kita dari tujuan kita untuk menjadi orang yang lebih baik dan lemah lembut. Ini bukan berarti kita tidak perlu lagi berusaha dengan sebaik-baiknya, tetapi ada sisi positifnya bila kita tidak terlalu terikat dan terpaku pada apa yang kurang dalam hidup ini. Masalahnya adalah bagaimana kita menyadari realita bahwa kita berusaha lebih baik dalam melakukan sesuatu tetapi tetap bisa menikmati atau menghargai keadaan yang sudah ada.
Pemecahannya adalah lepaskan diri anda sebelum terperangkap dalam tingkah laku memaksakan sesuatu yang menurut Anda lebih baik daripada yang sudah ada. Ingatkan diri Anda bahwa hidup akan baik-baik saja seperti adanya saat ini. Segala sesuatu akan baik-baik saja tanpa penilaian Anda. Begitu Anda berhasil menghilangkan keinginan untuk menjadi sempurna dalam segala bidang kehidupan, Anda akan menemukan keindahan dalam hidup Anda.