Senin, 10 November 2008

Jangan menunda kebahagiaan

Berbahagialah dimanapun Anda berada

Menyedihkan, sebagian besar di antara kita terus menerus menunda kebahagiaan. Banyak orang yang meyakinkan dirinya bahwa” Suatu hari nanti aku akan bahagia,” Kita mengatakan kepada diri kita bahwa kita akan bahagia bila tagihan-tagihan kita sudah terbayar, bila sudah lulus sertifikasi guru, bila sudah mendapatkan tunjangan profesi, bila nanti anak-anak sudah dewasa dan bekerja, atau nanti kalau sudah dapat pekerjaan, bila dipromosikan jadi kepala sekolah. Kita menyakinkan diri kita bahwa hidup akan lebih baik bila kita sudah menikah, punya pekerjaan , punya anak dan seterusnya. Lalu kita menjadi frustasi bila belum menikah, bila belum punya pekerjaan dan frustasi bila belum punya anak. Kapan kebahagiaan itu datang?

Hidup berjalan terus, yang pasti Tidak ada waktu yang lebih baik untuk berbahagia selain saat ini. Bila tidak sekarang, kapan ? Hidup kita akan selalu terisi dengan tantangan-tantangan. Walaupun begitu, yang terbaik adalah mengakuinya dan memutuskan untuk menjadi bahagia. Banyak orang berkata” Saya baru bisa tenang setelah pensiun”. Berarti banyak orang tidak tenang alias tidak bahagia saat ia masih dinas atau saat ia bekerja dulu. Mengapa kita tidak bahagia saat bekerja?. Bekerja bukan untuk mengumpulkan uang banyak, setelah itu kita baru bahagia. Seharusnya saat bekerja itu kita sudah dalam kondisi bahagia. Alangkah indahnya hidup bila setiap saat kita bahagia maka waktu bahagia kita akan panjang dan lama, dibandingkan dengan orang yang menunda kebahagiaan.

Kebahagiaan itu bukan hasil tetapi proses itu kebahagiaan. Tidak ada jalan menuju kebahagiaan, kebahagiaan itulah jalannya.

Kamis, 06 November 2008

Sumpah pemuda

Memperingati hari sumpah pemuda yang ke 80, masih relevan dengan kehidupan saat ini. Tantangan pemuda tahun 1928 sangat jelas yaitu usaha untuk mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Kesatuan dan kekompakan dikalangan pemuda saat itu merupakan kebutuhan yang mendasar dalam mengusir penjajah belanda. Ikrar dan janji pemuda untuk bersatu terpantri dalam sejarah dengan sebutan ”Sumpah Pemuda”. Selanjutnya, Bagaimana dengan pemuda saat ini. Apakah pemuda saat ini masih dalam penjajahan? Apa tantangan pemuda saat ini?. Saat ini pemuda Indonesia masih dalam kondisi terjajah, hanya saja sifat penjajahan saat ini tidak nampak dan tidak terasa kalau kita dijajah. Sarana penjajah modern menggunakan media elektronik , media cetak, politik, dan perdagangan. Target utama penjajah dahulu dengan sekarang tidak jauh berbeda, yaitu pembodohan, pengrusakan budaya, pengerukan kekayaan dan penyebaran faham liberalis dan kapitalis. Dampaknya memang tidak kelihatan sekaligus, tetapi dampak penjajahan modern ini mematikan beberapa generasi berikutnya secara terus menerus.
Kalau kita cermati tayangan media elektronik saat ini, hampir tidak ada muatan yang benar-benar mendidik, apalagi memotivasi pemuda indonesia untuk berpacu dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Bila kita menonton sinetron yang berkualitas jelek, dan rata-rata sinetron Indonesia berkualitas rendah, sebenarnya kita telah termakan oleh penjajah. Kita menonton TV berarti kita telah membeli produk mereka. Coba kita analisa, dalam menenton TV, kita sudah kehilangan banyak waktu, kita kehilangan perhatian kita terhadap tugas yang harus dikerjakan, kita diajari mereka cara makan, cara minum, cara berpakaian, cara berperilaku dan cara-cara lain, yang kita tidak membutuhkan, sebab kita sudah punya cara terbaik dalam segala hal yaitu cara yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Mengapa kita berpedoman pada gaya hidup artis sinetron bukan pada teladan kita nabi Besar Muhammd SAW.
Sumpah atau janji untuk pemuda saat ini memang masih dibutuhkan, dalam rangka untuk memerangi penjajahan budaya saat ini. Hanya saja sumpah dan janji itu harus kita sesuaikan dengan tantangan kita masing-masing. Misalnya untuk siswa, sumpah dan janjinya adalah ” Saya berjanji untuk belajar dengan tekun, saya bersumpah untuk taat kepada Orang tua dan guru, saya bersumpah untuk meraih prestasi yang tinggi, saya bersumpah untuk tidak menggunakan narkoba, saya bersumpah untuk menjalankan agama dengan sebenar-benarnya.” banyak contoh sumpah yang bisa dibuat oleh pemuda saat ini, tetapi yang lebih penting dari sumpah itu sendiri adalah pelaksanaan sumpah itu yang harus kita laksanakan dan kita jaga keajegannya. Sumpah dan janji itu pada prinsipnya adalah sugesti kita pada diri kita sendiri. Apabila sugesti itu hanya mampu masuk telinga saja, maka sugesti itu tidak akan berdampak atau tidak berfungsi. Apabila sugesti itu bisa kita masukkan ke sistem saraf pusat kita, maka sugesti itu akan menjadi sebuah energi yang mampu mendorong kita untuk berbuat. Bagaimana sumpah itu bisa masuk kedalam sistem saraf pusat kita, itu bukan persoalan yang mudah. Harus sering kita ulangi sumpah itu, harus kita renungkan sumpah itu dan harus kita konsentrasikan sumpah itu, supaya sumpah itu bisa berubah menjadi energi gerak, sehingga kita melaksanakan sumpah itu dengan ikhlas dan tanpa beban.

Selasa, 04 November 2008

Pikirkan yang Anda miliki

Saya pernah mendengar keluhan istri saya, ia mengeluh” Nanti kalau saya menjadi PNS, saya akan senang. Nanti kalau sudah punya mobil bagus, pasti aku akan senang, mungkin akan lebih tenang rasanya kalau rumah ini lebih besar dan indah.” Saya sendiri pernah berpikir, andai aku mengajar di sekolah besar, favorit, dan megah dengan kesejahteraan yang tinggi, mungkin aku lebih bahagia rasanya. Aku dan istriku telah melakukan hal yang salah, yaitu memperpanjang angan-angan.
Sikap mental yang menyatu dalam diri seseorang, sekaligus menghancurkan adalah mengfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita miliki. Tak jadi soal berapa banyak yang kita miliki; kita terus-menerus memperpanjang daftar keinginan, yang tidak menjamin bahwa kita akan menjadi terpuaskan. Pikiran yang mengatakan “ aku akan bahagia bila keinginanku yang satu ini terpenuhi” adalah pikiran yang sama yang akan terulang kembali bila keinginan yang sebelumnya sudah terpenuhi.
Kita ingin ini, ingin itu. Bila tak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita terus memikirkannya, dan kita tetap tak puas. Bila benar-benar mendapatkannya, kita hanyalah menciptakan kembali pikiran yang sama dalam keadaan kita yang baru. Jadi, walaupun memperoleh apa yang kita inginkan, kita tetap saja tidak bahagia. Kebahagiaan tak akan pernah kita temui bila kita selalu merindukan sesuatu yang baru.
Untungnya ada cara untuk menjadi bahagia. Caranya adalah mengubah penekanan pada pikiran kita: dari apa yang kita inginkan menjadi apa yang kita miliki. Dari pada mengharapkan sesuatu yang istimewa dari atasan kita, lebih baik memikirkan sifat-sifat baik yang dimilikinya. Daripada mengharapkan kado istimewa dari pasangan kita, lebih baik memikirkan sifat-sifat yang baik pada dirinya. Dari pada kita berharap bisa berlibur ke Eropa, lebih baik berpikir bahwa betapa nyamannya berada dekat rumah. Daftar kemungkinan ini tak ada habisnya! Setiap kali Anda merasa cenderung terjebak dalam cara berpikir “ aku berharap hidup ini akan lain”’ mundurlah dan kembalilah dari awal. Tarik napas dalam-dalam dan ingat-ingat semua yang kita miliki yang harus disyukuri. Bila kita tidak terpaku pada apa yang kita inginkan, tetapi pada apa yang kita miliki, kita akhirnya akan mendapatkan lebih dari yang kita inginkan. Bila kita memusatkan perhatian pada sifat-sifat baik atasan kita, ia akan menjadi lebih menyenangkan. Bila bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki, bukan mengeluhnya, kita akan bekerja lebih baik, lebih produktif, dan akhirnya mungkin akan mendapatkan penghargaan. Bila memikirkan bagaimana caranya menyenangkan diri dengan berada di sekitar rumah ketimbang menanti-nanti kapan saatnya bisa berlibur ke Eropa, kita akhirnya akan mendapatkan lebih banyak waktu bersenang-senang. Bila akhirnya benar-benar bisa pergi ke Eropa, kita akan bahagia. dan, bila dengan berbagai alasan kita tak dapat pergi ke sana, hidup kita juga akan tetap bahagia.
Buatlah cacatan bagi diri sendiri untuk mulai lebih memikirkan apa yang Anda miliki bukan apa yang Anda inginkan. Bila melakukannya, hidup Anda akan kelihatan lebih baik daripada sebelumnya. Karena barangkali untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kita tahu apa artinya merasa puas.

Senin, 03 November 2008

Bila Anda mati, daftar tugas Anda tak akan pernah kosong

Begitu banyak diantara kita yang menjalani kehidupan, seolah-olah tujuan hidup kita adalah menyelesaikan semua tugas yang harus kita lakukan. Kita begadang sampai larut malam, bangun pagi-pagi benar, tidak mau bersenang-senang, dan membuat orang-orang yang kita sayangi menunggu-nunggu kita. Seringkali kita menyakinkan diri kita bahwa obsesi kita terhadap daftar” yang harus dikerjakan” hanyalah sementara- sekali kita sudah menyelesaikan tugas-tugas itu, kita akan menjadi tenang, santai, dan bahagia. Tetapi, kenyataannya, ini sangat jarang terjadi. Begitu satu tugas selesai, tugas yang lain akan muncul.
Siapapun Anda atau apapun pekerjaan Anda, ingatlah bahwa tak ada yang lebih penting daripada rasa bahagia dan ketenangan batin Anda dan orang-orang yang Anda sayangi. Bila Anda terobsesi menyelesaikan segala sesuatu, Anda tak akan mendapatkan rasa sejahtera! Bahkan sesungguhnya, hampir semua hal bisa ditunda. Sangat jarang dalam hidup kita, kita benar-benar berada dalam keadaan yang bisa dikategorikan keadaan ” darurat”. Bila Anda tetap berkonsentrasi pada pekerjaan, semuanya akan dapat diselesaikan pada waktunya.
Perlu diperhatikan bahwa tujuan hidup ini bukanlah untuk menyelesaikan semua tugas tetapi untuk menikmati setiap langkah dalam perjalanan hidup kita dan merasakan hidup yang penuh kasuh sayang. Ingat, waktu Anda mati nanti, selalu masih akan ada urusan yang belum selesai. Dan tahukah Anda? Orang lainlah yang akan menyelesaikannya! Jangan buang-buang waktu berharga Anda dengan menyesali hal hal yang tak terhindarkan.

Hidup ini memang tidak adil

Suatu hari saya menerima keluhan dari istri saya tentang ketidakadilan hidup. Ia berkata” Kuliah saya dulu IPKnya tinggi, saya mengerjakan soal ujian CPNS juga bisa mengapa saya tidak diterima PNS, sedangkan teman saya yang IPKnya rendah, waktu ujian CPNS juga minta jawaban dari saya, tetapi malah ia yang diterima PNS sedangkan saya tidak”. Ia mulai menyalahkan Pemerintah, panitia ujian CPNS dan mengeluh terus menerus menyesali kehidupan yang tidak adil ini. Istriku yang masih jadi guru bantu itu rupanya tidak faham bahwa hidup ini memang tidak adil. keadilan itu hanya ada di alam akhirat nanti. Hidup memang tidak adil. Hidup ini tidak menyenangkan, tetapi hidup ini nyata.

Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan adalah merasa kasihan pada diri kita sendiri, atau kasihan pada orang lain, berpikir bahwa hidup ini seharusnya adil, atau suatu hari nanti hidup ini pasti adil. Tidak benar begitu atau tidak akan begitu. Bila kita melakukan kesalahan ini, kita cenderung menghabiskan waktu kita berkubang dan atau mengeluh tentang apa saja yang salah dengan hidup ini.Kita kasihan pada orang lain, mendiskusikan ketidak adilan hidup. “ Hidup ini tidak adil,” kita mengeluh, tidak menyadari, mungkin hidup ini bakal begitu terus.

Salah satu hal yang baik adalah bila kita melepaskan pikiran bahwa hidup ini tidak adil, maka kita terhindar dari mengasihani diri kita, karena dengan demikian kita mendorong diri kita berusaha sebaik mungkin dengan apa yang kita miliki. Kita tahu bahwa bukan “ tugas hidup” untuk membuat segalanya sempurna, ini tantangan kita. Melepaskan pikiran ini juga membuat kita terhindar dari mengasihi orang lain karena kita sadar bahwa orang lain memiliki suratan tangan masing-masing, dan setiap orang memiliki kekuatan dan tantangan yang tak sama dengan orang lain.

Fakta bahwa hidup ini tidak adil bukanlah berarti kita sebaiknya tdak mengarahkan kemampuan kita untuk memperbaiki kehidupan kita dan dunia ini pada umumnya. Sebaliknya, justru karena kita sadar bahwa dunia ini tidak adil, kita akan berusaha melakukan perbuatan untuk berbuat adil. Bila kita tidak menyadari atau mengakui bahwa hidup ini tidak adil, kita cenderung untuk jatuh kasihan pada orang lain dan diri kita sendiri. Rasa kasihan itu adalah emosi yang melemahkan, yang tidak bermanfaat bagi setiap orang, hanya membuat orang merasa lebih buruk daripada sebelumnya.Bila kita benar-benar menyadari bahwa hidup ini tidak adil, kita akan merasa peduli pada orang lain dan diri kita sendiri. Dan rasa peduli adalah emasi yang tulus yang mengirimkan kebaikan yang penuh kasih sayang untuk setiap orang.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Perbesar rasa peduli Anda

Tak ada yang lebih membantu memperluas sudut pandang kita selain memperbesar rasa peduli kita kepada orang lain. Peduli berarti bersimpati pada orang lain. Dengan peduli kita berusaha menempatkan diri kita pada posisi orang lain, tidak memikirkan diri sendiri dan membayangkan bagaimana rasanya bila kita yang mengalami kesulitan yang dialami orang lain itu, dan sekaligus berbelas kasih pada orang tersebut. Harus diakui bahwa persoalan orang lain, rasa sakitnya dan frustrasinya, persis seperti yang kita rasakan- malahan kadang-kadang lebih parah. Menggakui kenyataan ini dan berusaha menawarkan bantuan, akan membuka hati kita dan memperbesar rasa syukur kita.
Rasa peduli dapat dikembangkan dengan melatih diri sendiri. Untuk melakukannya, kita membutuhkan dua hal: niat dan tindakan. Dengan berniat berarti kita ingat untuk membuka hati kita kepada orang lain, menyampaikan apa dan siapa yang jadi persoalan, dari diri kita ke diri orang lain. Dengan bertindak berarti kita” melakukan apa yang harus kita lakukan untuknya.” Anda bisa menyumbang sedikit uang, tenaga atau waktu9 atau kedua-duanya) secara berkala pada hal-hal yang menyentuh hati. Atau mungkin Anda akan tersenyum manis dan menyapa dengan tulus orang-orang yang Anda temui di kantor, sekolah atau dijalanan. Tak penting apa yang Anda perbuat, pokoknya berbuat sesuatu dengan kasih sayang. Seperti kata filosof ” Kita tidak dapat melakukan hal-hal besar di dunia ini. Kita hanya dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta kasih yang besar.”
Rasa peduli akan memperbesar rasa syukur kita dengan cara melepaskan perhatian kita dari hal-hal kecil yang biasanya kita perlakukan dengan serius. Menyisihkan waktu kita untuk memikirkan keajaiban hidup-keajaiban bahwa kita bisa membaca blog ini-anugerah tangan, penglihatan, kesehatan dan karunia lainnya, dapat membantu mengingatkan kita bahwa begitu banyak hal-hal yang kita anggap sebagai ” masalah besar” sebenarnya hanyalah ”masalah kecil” yang kita ubah sendiri menjadi masalah besar”

Berhati-hatilah pada efek bola salju Anda

Teknik yang efektif untuk menjadi lebih tenang adalah menyadari bahwa berpikir negatif dan selalu merasa tidak aman akan cepat sekali membuat kita lepas kendali. Pernahkan Anda memperhatikan bahwa betapa tegangnya bila Anda dikejar-kejar pikiran Anda? Dan yang jelas, semakin kita terserap dalam hal-hal kecil yang membuat kita marah atau kecewa, semakin tidak nyaman perasaan kita. Satu pikiran menambah berat pikiran lainnya, dan begitu seterusnya. Sampai akhirnya kita akan mersa sangat tergannggu.
Sebagai contoh, Anda seorang meneger di perusahaan atau di sekolah, ketika malam hari terbangun dan teringat bahwa besok akan ada peninjauan perusahaan atau akreditasi sekolah. Anda malah memikirkan teman-teman Anda yang tidak mempersiapkan berkas-berkas untuk keperluan besok, selanjutnya Anda sibuk dengan pilihan-pilihan kata untuk memarahi teman Anda, Anda membanyangkan pembicaraan antara Anda dengan tamu kunjungan atau Asesor sekolah, sehingga membuat Anda semakin cemas, Segera Anda akan berpikir, ” Ya ampun, sibuk betul aku ini. Aku harus mengurus ini, mengerjakan itu, membereskan ini dan itu. Aku benar-benar tidak punya waktu untuk diriku sendiri!” dan begitu seterusnya sampai Anda merasa kasihan pada diri anda sendiri. Yang perlu diperhatikan bahwa Tidak mungkin kita dapat merasakan ketenangan bila kepala kita penuh dengan keprihatinan dan kejengkelan.
Contoh lain, Istriku seorang guru bantu di sekolah swasta, ketika ada berita akan ada pendaftaran CPNS baru dari jalur nan honorer, ia mulai berpikir, menggapa pemerintah tidak mengangkat guru bantu dulu, ia mulai mencaci bupati, diknas, dan presiden. Ia lemas dan tidur-tiduran seharian, bahkan pekerjaan lain yang seharusnya ia lakukan tidak dikerjakan. Ini merupakan bola salju pikiran.
Cara untuk mengatasinya adalah Anda harus segera menyadari timbulnya pikiran-pikiran seperti itu di kepala Anda sebelum pikiran-pikiran itu punya kesempatan untuk berkembang biak lebih jauh. Semakin cepat Anda mengenali tanda-tanda efek bola salju ini, semakin mudah Anda menghentikannya. Dalam contoh guru bantu di atas awal bola salju itu adalah berita akan ada pendaftaran CPNS, timbul pikiran awal kekhawatiran kalau guru bantu tidak diangkat tetapi mengangkat CPNS dari non guru bantu, pikiran kedua timbul prasangka bahwa yang membuat pendaftaran CPNS itu bupati, dan bupati itu yang harus disalahkan, begitu seterusnya. Seharusnya kita berpikir bahwa pendaftaran CPNS itu memang ada tetapi pengangkatan guru bantu juga berjalan sesuai rencana. Apabila itu yang ada pada pikiran istri saya pasti ia tidak merasa jengkel pada bupati, diknas dan yang lainnya.

Jumat, 24 Oktober 2008

Orang lemah lembut dapat meraih prestasi

Salah satu alasan utama mengapa kebanyakan dari kita selalu tergesa-gesa, cemas, dan bersikap kompetitif, serta menjalani kehidupan seolah-olah dalam keadaan darurat, karena kita takut bahwa bila kita menjadi orang yang lebih tenang dan lemah lembut, kita tidak bisa lagi mencapai sasaran kita. Kita menjadi malas dan masa bodoh.
Meraih prestasi tidak harus dengan tergesa-gesa, cemas dan bersikap kompetitif. Justru apabila kita meraih prestasi dengan bersikap kompetitif akan banyak membuang energi, menghilangkan kreatifitas kita serta menghilangkan potensi besar kita. Bila kita penuh kecemasan dan kekalutan, secara harfiah kita kehilangan potensi besar yang terpendam pada kita, belum lagi hilangnya kenikmatan hidup.
Saya beruntung punya atasan kepala sekolah SMK swasta, yang punya kepribadian tenang, lemah lembut, tidak mudah cemas dalam menghadapi masalah tetapi prestasi kerja sebagai kepala sekolah saya anggap sangat luar biasa. Sampai saat ini dia merupakan inspirator saya untuk terus bersikap lemah lembut dalam melakukan segala pekerjaan.
Bila kita memiliki apa yang kita inginkan ( ketenangan batin) , kita tidak akan terlalu diganggu oleh keinginan, kebutuhan, impian, dan masalah kita. Jadi, kita akan lebih mudah berkonsentrasi, meraih tujuan, dan memberikannya kepada orang lain.

Jangan memusingkan hal-hal kecil

Sering sekali kita merisaukan hal-hal yang setelah kita amati lebih dalam, ternyata bukanlah masalah besar. Kita terpaku pada masalah-masalah kecil dan terlalu membesar-besarkannya. Contohnya, bila ada orang yang menyalip kendaraan kita, bukannya membiarkannya dan melanjutkan urusan, kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita berhak marah. Kita menayangkan pertengkaran imajiner di kepala kita. Banyak orang malah justru menceritakan keajadian ini kepada orang lain, bukan melupakan begitu saja. Saya pernah mengalami kejadian kecil yaitu dipermalukan teman seprofesi dihadapan siswa –siswa dalam suatu ruang kelas, padahal mungkin teman saya tadi tidak sengaja, tetapi saya tanggapi dengan cara meninggalkan komunitas teman saya yang sudah baik tersebut, akibatnya menyesal karena terputusnya silaturrohmi dengan teman-teman yang lain yang kepribadiannya sangat baik. Wajar memang saat kita dihina atau dipermalukan, suasana batin kita akan terasa tegang, tidak nyaman, berusaha untuk membalas, tetapi itu berlangsung tidak lama, yang penting bagi kita adalah berusaha untuk tetap tenang, bersimpati pada orang itu, pikirkan untuk membalas perasaan tidak nyaman ( mangkel) itu dengan berbuat baik pada orang tersebut dan lingkungan kita.
Banyak “ hal-hal kecil” serupa yang terjadi setiap hari dalam hidup kita. Harus menunggu giliran, mendapat kritik yang tidak fair, pekerjaan yang banyak tetapi tidak sesuai dengan imbalan, harus memikul lpaling banyak tugas, semuanya akan sangat membebani bila kita tidak belajar untuk tidak memusingkan hal-hal kecil. Begitu banyak orang yang menghabiskan energinya untuk” memusingkan hal-hal kecil” sehingga mereka samasekali kehilangan sentuhan akan keajaiban dan keindahan hidup ini. Bila kita berniat untuk berusaha mencapai tujuan ini, kita akan menemukan bahwa energi kita akan jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk menjadi orang yang lebih baik hati dan lebih lemah lembut.

Berdamailah dengan ketidak sempurnaan

Kita belum pernah menjumpai seseorang perfeksionis yang hidupnya tenteram. Kebutuhan untuk menjadi sempurna dan keinginan untuk mendapatkan ketenangan batin merupakan dua hal yang saling bertentangan. Bila kita terikat untuk mendapatkan sesuatu dengan cara tertentu, atau memaksakan diri untuk mendapatkan sesuatu, bukannya menerima apa yang sudah ada, artinya kita sudah kalah dalam pertempuran. Bukannya merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, kita malah terpaku pada apa yang masih kurang dan dorongan untuk memperolehnya. Bila kita berpikir ada yang kurang, berarti kita selalu kecewa dan tidak puas.
Banyak hal ketidaksempurnaan yang ada pada diri kita sendiri, misalnya, rumah kita yang belum selesai, anak-anak kita yang nakal, siswa-siswa kita yang bandel dan malas belajar, belum turunnya tunjangan professional kita, prestasi yang tidak sempurna, kelebihan berat badan, atau “ ketidaksempurnaan “ orang lain, missal, cerewetnya atasan, meditnya(kikir) atasan, penampilan fisik teman yang jelek, tingkah laku teman yang menjengkelkan, atau gaya hidup yang tidak teratur pada orang lain.
Sikap selalu meributkan ketidaksempurnaan akan menjauhkan kita dari tujuan kita untuk menjadi orang yang lebih baik dan lemah lembut. Ini bukan berarti kita tidak perlu lagi berusaha dengan sebaik-baiknya, tetapi ada sisi positifnya bila kita tidak terlalu terikat dan terpaku pada apa yang kurang dalam hidup ini. Masalahnya adalah bagaimana kita menyadari realita bahwa kita berusaha lebih baik dalam melakukan sesuatu tetapi tetap bisa menikmati atau menghargai keadaan yang sudah ada.
Pemecahannya adalah lepaskan diri anda sebelum terperangkap dalam tingkah laku memaksakan sesuatu yang menurut Anda lebih baik daripada yang sudah ada. Ingatkan diri Anda bahwa hidup akan baik-baik saja seperti adanya saat ini. Segala sesuatu akan baik-baik saja tanpa penilaian Anda. Begitu Anda berhasil menghilangkan keinginan untuk menjadi sempurna dalam segala bidang kehidupan, Anda akan menemukan keindahan dalam hidup Anda.